MABOK DUREN

1 07 2011

Disaat siang terasa lengang, tidak demikian ketika matahari tak lagi tampak. Separuh badan jalan adalah area parkir. Setidaknya itulah yang terjadi akhir-akhir ini di tiga per empat dari seluruh panjang jalan “Teuku Umar” Kota Pontianak. Hal ini dikarenakan oleh aktivitas yang dilakukan para penjual buah dengan penampilan menyeramkan ini di seperempat lebar jalan.

20110630-114302.jpg

Tapi disitulah asiknya makan Durian di seputaran jalan Teuku Umar Pontianak, makan durian memang mengasikkan tapi taukah anda menfaat dari buah berduri ini?

20110630-114114.jpg

Durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebuah durian diduga berasal dari istilah Melayu, yaitu dari kata duri yang diberi akhiran -an. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam. Tanaman durian sendiri berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan yang merupakan tanaman liar. Penyebaran durian ke arah barat adalah ke Thailand, Birma, India, dan Pakistan. Di Asia, buah ini sudah dikenal sejak abad 7 M. Berdasarkan catatan sejarah, nama lain durian adalah Duren (Jawa, Gayo), Duriang (Manado), Dulian (Toraja), dan Rulen (Seram Timur).
Buah durian memiliki manfaat mineral alamiah yang mudah dicerna oleh tubuh kita. Durian juga mengandung fosfor dan zat besi yang 10 kali lebih banyak dari buah pisang (mas, ambon, dan beranga). Tapi karena kandungan mineralnya yang tinggi, terutama kalsium dan zat besi, durian dapat menjadi penyebab masalah pada pergerakan usus besar. Bagi yang memiliki riwayat darah tinggi, disarankan untuk tidak mengkonsumsi buah ini bersama dengan alkohol karena dapat menyebabkan stroke. Selain itu, disarankan untuk banyak minum air putih sebelum dan sesudah makan durian untuk menghindari dehidrasi.

nah, mumpung di Pontianak dan mumpung masih musim duren, tapi mesti pinter-pinter nawarnya, jadi puas-puasin deh

Sumber

Iklan




(Saya Pernah…) Makan Dalam Kelambu

14 06 2011

“Makan Dalam Kelambu”

Adat istiadat orang suku bugis (khususnya di Pontianak) banyak sekali ritualnya, dan ritual tersebut hampir tidak asing lagi kedengarannya oleh orang melayu. Seperti : buang-buang, lasuji, robo-robo, sepulung, makan dalam kelambu dan masih banyak yang lain. Yang saya sebutkan diatas itu adat istiadat atau tradisi suku bugis yang tidak asing lagi.

Karena ritual ini selalu dilakukan suku bugis, dan tidak asing lagi. Makan dalam kelambu ini ritualnya sangat menarik, karena makannya harus di dalam kelambu, tidak boleh tidak. Kalau tidak dalam kelambu namanya bukan lagi makan dalam kelambu, tapi makan di dalam rumah.

Makan dalam kelambu, suku bugis, yang diadakan di jungkat, tidak berbeda dengan ritual di daerah-daerah lain. Kecuali isi makanannya ataupun orang/pawangnya yang berbeda jenis kelamin, atau cara penyampaian doanya. Biasanya doa-doa ritual ini berbeda-beda doanya, tapi maksud dari doa tersebut sama artinya.

Prosesi makan dalam kelambu ini sudah turun temurun dari nenek moyang suku bugis, biasanya ritual ini dilakukan pada waktu ada hajatan seperti, perkawinan, khitanan (sunatan), naik ayun (naek tojang).

Ritual makan dalam kelambu ini biasanya orang yang terlibat seperti : pawang, orang yang melakukan hajatan misalnya : orang yang akan menikah atau orang rumah yang melakukan hajatan.

Pawang disini maksudnya orang yang membacanya doa-doa atau yang melaksanakan ritual tersebut. Pawang tersebut tidak boleh sembarangan, dia harus sudah menguasai mantra-mantranya atau doa-doa tersebut, dan biasanya pawang tersebut sudah turun-temurun, yang melaksanakannya, atau yang lebih tepat orang yang sudah ahli.
Orang yang melakukan hajatan disini maksudnya, orang yang menikah, biasanya sepasang pengantin ini juga ikut masuk ke dalam kelambu tersebut, karena dia itu wajib berada di situ, dikarenakan dia yang akan dibacakan doa-doa tersebut agar prosesi acara pernikahannya besok akan berjalan dengan lancar.

Biasanya prosesi makan dalam kelambu dilaksanakan di dalam kamar yang dalam keadaan gelap. Terserah dimana letak kamar tersebut. Jika orang yang melakukan hajatan tidak mempunyai ruangan yang tepat/ tidak mempunyai kamar, tidak apa-apa yang lebih penting orang tersebut harus mempunyai kelambu. Dan kelambu tersebut harus dipasang. Boleh dipakai pangkeng (tempat tidur yang pakai besi) boleh juga tidak. Harus dipakai kelambu ini wajib, karenakan inilah alat-alat dalam makan kelambu yang tidak boleh dilupakan. Yang lain boleh dilupakan tapi yang namanya kelambu tidak boleh.

Makan dalam kelambu ini biasanya dilaksanakan sebelum melakukan hajatan, misalnya kita melaksanakan hajatan/pun acara pernikahan. Prosesi makan dalam kelambu ini dilaksanakan 2 hari, ataupun 1 hari lagi mau melakukan acara tersebut. Yang penting sebelum hari melakukan hajatan. Kita melakukan ritual makan dalam kelambu ini sebelum melaksanakan prosesi acara dikarenakan agar orang yang melaksanakan prosesi acara selamat dan acaranya pun berjalan dengan lancar.

Tradisi makan dalam kelambu ini dilaksanakan setiap ada hajatan, dan ritual ini tidak ditentukan, dilaksanakannya, yang penting ritual ini dilaksanakan kapan saja, yang penting pada saat kita ada acara hajatan. Ritual makan dalam kelambu ini tidak boleh sembarangan kita laksanakan, dikarenakan banyak pantangannya. Karena banyak syaratnya antara lain : harus menggunakan nasi ketan (pulut) dan harus 4 warna yaitu putih, merah hitam dan kuning dalam 1 piring, dan tidak boleh dibeda-bedakan piringnya. Menata nasi ketannya harus berurutan putih, merah, kuning dan hitam. Di atas ketan tersebut harus ada telur kampung rebus, menggunakan ayam panggang 1 ekor, tetapi ayam tersebut tidak boleh sembarangan.

Karena ayam yang dipakai itu adalah ayam kampung yang jantan tidak boleh menggunakan ras (betina). 1 sisir pisang dan pisang yang digunakan itu harus pisang khususnya yaitu pisang berangan. Di dalam bakul terdapat/yang berisikan gabah (padi) dan diletakkan di atas gabah tersebut 1 buah kelapa tua yang sudah di kupas sabutnya dan disekeliling atas kelapa tersebut dililitkan benang ptih sebanyak 7 lilitan.

Ditambah lagi peralatan berupa lilin yang akan dinyalakan ketika ritual itu dilaksanakan. Adapun lilin yang digunakan adalah lilin lebah dan 1 perangkat tempat sirih, pinang, kapur, daun sirih, gambir dan tembakau, digunakan minyak bau dan bereteh dan beras kuning, yang akan digunakan apabila acara dilaksanakan. Pertama-tama seorang pawang menyiapkan sesaji yang akan digunakan, sesaji tersebut misalnya yang telah saya sebutkan diatas. Setelah sesaji itu dipersiapkan, lalu orang yang melasanakan hajatan harus masuk di dalam kelambu tersebut bersama sesajinya dan pawangnya. Di dalam kelambu tersebut tidak boleh ada cahaya yang masuk kecuali lilin lebah, agar acara ritual tersebut akan lebih nikmat dan tenang.

Seorang pawang membacakan mantra/doa-doa setelah itu minyak bau dilumuri di telinga, ubun-ubun, tenggorokan dan pusar (pusat), diambil sedikit-sedikit nasi pulut yang 4 macam, disiapkan bayang-bayangnya yang diberi makan. Maksudnya pawang memberi makan kepada ruh yang melakukan hajatan. Langsung pawang itu menyuapkan makanan serba sedikit kepada yang melaksanakan makan dalam kelambu.

Setelah itu lilin dikelilingkan diatas kepala orang yang makan dalam kelambu diatasnya sebanyak 3 kali putaran, 3 kali sebelah kanan, dan 3 kali sebelah kiri. Setelah itu dibacakan doa selamat kepada yang makan dalam kelambu. Habis itu lilinnya ditiup, sinar dari luar kelambu menyinari di dalam kelambu. Menandakan acara sudah selesai.
Nilai-nilai positif yang dapat kita ambil dalam ritual makan dalam kelambu adalah menghilangkan rasa was-was karena sudah melaksanakan adat tersebut. Menghilangkan rasa beban kita karena kita sudah melaksanakan ritual tersebut, dikarenakan adat tersebut turun temurun dari nenek moyang kita dan kitapun telah melaksanakan ritual tersebut.

ok..ada yang pernah mengalaminya?

Sumber





Inilah Dia Foto-Foto Barang Peninggalan Rasulullah SAW

14 06 2011

Baju Nabi Muhammad SAW:

Topi Perang:

Baju dan Barang-barang  Rasulullah SAW:

Kotak Gigi Rasulullah SAW:

Kunci Ka’bah di Zaman Rasulullah SAW:

Pedang Rasulullah SAW:

Jejak Kaki Rasulullah SAW:

Rambut Rasulullah SAW:

Tulisan yang ditulis Rasulullah SAW:

Sorban Rasulullah SAW:

Gigi dan Rambut Rasulullah SAW:

mangkok minum Rasulullah SAW:

Sumber